Ketakutanku
Malam itu aku merasa gelisah. Ketakutan ku akan kesepian dan keseorangan pun datang tak henti-hentinya. Ku coba pejamkan mata ini, namun…. Ya aku tak bisa. Ke kiri aku, ke kanan… namun tetap ketakutan itu ada.
Kudengar lentingan jarum jam yang menemaniku disetiap malam. Jarum jam menunjukkan pukul 03.12 pagi tepatnya. Hhuh..sudah hal yang biasa bagi ku untuk tetap terbangun di malam hari yang selalu ditemani dengan lantunan musik-musik melo dari radio kecil ku.
Ku bangun dan ku buka catatan kecil ku yang ku tulis dikala aku merasakan sesuatu telah terjadi pada kehidupan ku. Ya…sudah menjadi kebiasaan ku sejak masih duduk di bangku sekolah untuk menulis dan mencurahkan perasaan dan hati kepada buku “Cilik ku” ini. Hahaha….. meskipun aku tahu “dia” takkan bisa memberi jawaban dan solusi terbaik untukku.
Tapi aku bangga atas kesetiaannya dalam menemani ku disetiap detik ku.
Malam itu entah kenapa ketakutan ku akan kesepian dan keseorangan begitu ingin menghampiri ku.
Bayangan-bayangan “hitam” itu seolah-olah membawa ku kepada sebuah kehidupan baru untuk ku, tapi tetap ku tak mengerti!!
“Pergiii….!!!” …….“Pergiii….!!!” teriakku.
Ya Tuhan….aku mendengar seolah-olah buku “Cilik ku” ini sedang menertawai ku. Seolah-olah dia berkata kepada ku…
”Apa lagi yang akan kau tulis di kertas ini?? Kertas putih yang bersih,
dengan tulisan berwarna hitam, dan kemudian akan luntur!”
Yaa… luntur karena air mata ku. Seperti hujan yang turun setetes dua tetes,… Lalu….
Hhhaa… apa yang telah terjadi pada ku!!!!
Ternyata “dia” benar, aku menangis seperti anak bayi yang pucat dan membiru karena kedinginan dan mengharapkan pelukan kehangatan seorang Ibu.
Tapi aku……..??........Tanpa sebab!!!
Seolah-olah “dia” berkata……”hapuslah air matamu! Lihatlah ke depan, sesungguhnya ketakutan mu itu hanyalah Ketakutan Tanpa sebab!!”
By: Manusia setengah sadar
Tuesday, March 27, 2007, 4:50:51 AM
Yang tak termiliki
Berkali-kali aku meneriaki hanya sekedar untuk berkata ‘tidak’. Ucapan yang aku sendiri pun terlalu bosan. Aku bosan dengan kata itu. Malah lebih! Tidak sekedar bosan, tapi benci!
Bosan! Muak!
Aku terlalu muak dengan kehidupan ini.
Biarkan saja ia pergi meskipun sangat susah untuk melangkah. Biarkan saja ia membenci meskipun ia mencintainya. Biarkan saja ia bersuara meskipun ia bisu. Biarkan saja ia menatapnya meskipun ia buta. Biarkan saja ia tersenyum meskipun ia terluka.
Kenyataan memang selalu menyakitkan.
Biarkan ia terbang bebas hingga ke ujung kehidupan agar ia tahu dan mengerti arti kehidupan itu.
Bahwa ia memang tak akan memiliki.
By : Manusia setengah sadar
[Tuesday, March 27, 2007, 4:50:57 AM]
Surat untuknya
(for him … )
Kau tak akan pernah tahu rasanya malam ini. Menikmati dinginnya angin malam dan redupnya cahaya lampu. Malam ini benar-benar terasa dingin. Andai saja kau ada disampingku, untuk sekedar menemaniku berbincang-bincang, mungkin saja dingin tak akan menusuk tulang rapuhku ini.
Kita pernah berjanji untuk selalu bernafas bersama, menghirup udara dan menikmati lantunan musik setiap melodinya. Kita juga pernah berjanji untuk saling menyayangi tanpa ada batas dan tembok pemisah. Kita juga pernah berjanji untuk selalu mengenang masa-masa indah dan manis bersama. Dulu kita juga pernah mengikat janji bersama sambil menguraikan air mata, untuk tetap menyatukan detak jantung dan jemari tangan bersama. Tapi itu mungkin dulu. Dulu sekali.
Kata demi kata, dan ucapan demi ucapan begitu lantang dari mulut itu. Mulut yang terlalu berani untuk mengucap sepenggal kalimat. Kalimat cinta yang terlalu tawar dan hambar tanpa rasa.
Surat ini kupersembahkan untuk dirinya. Meskipun hanya sebuah kata-kata yang tak diucapkan.
Surat ini … surat yang tak pernah sampai.
Surat untuknya.
By : Manusia setengah sadar
[ Tuesday, March 27, 2007, 4:50:57 AM ]
Wednesday, September 10, 2008
Sunday, September 7, 2008
...one night away
Hakikat kehilangan dan melepaskan. Itu adalah salah satu dari lima puluh judul bab buku yang kini tengah aku baca. 50 Ways To Let Go And Be Happy. Agar bahagia, lepaskanlah! Buku bercover merah karya Chuck Spezzano yang telah aku beli tiga tahun lalu, kini aku buka kembali. Ini untuk kedua kalinya jimat itu aku buka dan membaca kembali satu persatu setiap paragrafnya dengan detail.
Hujan di Bandung. Malam itu ternyata malam terakhir ku untuk bertemu Utha. Aku mengambil napas dalam-dalam untuk meredakan emosiku. Dan aku mulai tersadarkan. Ternyata sudah 288 jam tak ada kabar darinya. Jangankan lewat SMS, batang hidungnya pun tak tampak di depan mataku. Semoga duniamu masih baik-baik saja. Aku bingung. Selalu mempertanyakan keberadaanmu dan hubungan ini. Ini bukan yang pertama kalinya. Sempat aku berpikir mungkin aku tak lebih dari tempat persinggahan lelahmu saat dunia tak mau lagi bersahabat denganmu. Utha... Utha. Bagiku mungkin saat itu kau adalah sang dewa penyelamat bagi kaum hawa yang lemah sepertiku. Namun, ternyata semua bohong. Kau tak jauh berbeda dengan para kaum adam yang pernah kukenal. Hanya saja kau sedikit beruntung pada saat itu karena kau pernah memiliki aku. Dari awal hendaknya aku sadar bahwa aku tak boleh berharap banyak darimu. Hanya saja mata dan telinga ini selalu membisu dan hatipun selalu tertutup untuk menyadarkan itu semua. Utha. Orang yang akan selalu membekas dihati ini. Selamanya.
Tak sadar aku tersenyum sendiri memikirkan Utha. Mengingat-ingat kejadian aneh yang pernah aku lalui bersamanya. Sedih. Senang. Lucu. Bahagia. Suka. Duka. Hampir rata. Isi otak pun terpaksa flash back kebelakang hanya untuk mengingat hal-hal detail tentang kejadian lalu. Sakit. Sakit sekali. Otak ini rasanya mau pecah ketika aku harus memaksakan diri untuk memejamkan mata dan mengkerutkan kening untuk sejenak terdiam lalu berpikir. Huh! Tidak. Tidak akan bisa terus-terusan seperti ini. Ayolah. Sudah. Cukup untuk cerita tentang Utha.
“U r free now. Jangan sedih mulu. Everything gonna be alright. Ga penting buat lo. Lo lahir nangis! Masa hidup mesti nangis.“
“TEORI itu masuk akal kok. Kita emang butuh waktu untuk bisa melupakan hal terburuk dalam hidup kita. Meskipun itu sangat terhina dan menjijikkan!“
“Yakin deh. Lo bakal ketemu orang yang jauh... jauh lebih baik dari dia.“
“Dunia belum berakhir sayaaaang...“
“Emang sakit. Tapi, itu cuma perasaan lo mengenai “keistimewaan”, yaitu “istimewa” sebagai seorang penderita. Jangan mau jadi penderita teruuuusss…”
“Mau sampe kapaaaaannn siiihh?”
Hujan di Bandung. Malam itu ternyata malam terakhir ku untuk bertemu Utha. Aku mengambil napas dalam-dalam untuk meredakan emosiku. Dan aku mulai tersadarkan. Ternyata sudah 288 jam tak ada kabar darinya. Jangankan lewat SMS, batang hidungnya pun tak tampak di depan mataku. Semoga duniamu masih baik-baik saja. Aku bingung. Selalu mempertanyakan keberadaanmu dan hubungan ini. Ini bukan yang pertama kalinya. Sempat aku berpikir mungkin aku tak lebih dari tempat persinggahan lelahmu saat dunia tak mau lagi bersahabat denganmu. Utha... Utha. Bagiku mungkin saat itu kau adalah sang dewa penyelamat bagi kaum hawa yang lemah sepertiku. Namun, ternyata semua bohong. Kau tak jauh berbeda dengan para kaum adam yang pernah kukenal. Hanya saja kau sedikit beruntung pada saat itu karena kau pernah memiliki aku. Dari awal hendaknya aku sadar bahwa aku tak boleh berharap banyak darimu. Hanya saja mata dan telinga ini selalu membisu dan hatipun selalu tertutup untuk menyadarkan itu semua. Utha. Orang yang akan selalu membekas dihati ini. Selamanya.
Tak sadar aku tersenyum sendiri memikirkan Utha. Mengingat-ingat kejadian aneh yang pernah aku lalui bersamanya. Sedih. Senang. Lucu. Bahagia. Suka. Duka. Hampir rata. Isi otak pun terpaksa flash back kebelakang hanya untuk mengingat hal-hal detail tentang kejadian lalu. Sakit. Sakit sekali. Otak ini rasanya mau pecah ketika aku harus memaksakan diri untuk memejamkan mata dan mengkerutkan kening untuk sejenak terdiam lalu berpikir. Huh! Tidak. Tidak akan bisa terus-terusan seperti ini. Ayolah. Sudah. Cukup untuk cerita tentang Utha.
“U r free now. Jangan sedih mulu. Everything gonna be alright. Ga penting buat lo. Lo lahir nangis! Masa hidup mesti nangis.“
“TEORI itu masuk akal kok. Kita emang butuh waktu untuk bisa melupakan hal terburuk dalam hidup kita. Meskipun itu sangat terhina dan menjijikkan!“
“Yakin deh. Lo bakal ketemu orang yang jauh... jauh lebih baik dari dia.“
“Dunia belum berakhir sayaaaang...“
“Emang sakit. Tapi, itu cuma perasaan lo mengenai “keistimewaan”, yaitu “istimewa” sebagai seorang penderita. Jangan mau jadi penderita teruuuusss…”
“Mau sampe kapaaaaannn siiihh?”
-----------------------------------not the end-------------------------------------
COMING SOON...at GRAMEDIA
COMING SOON...at GRAMEDIA
Subscribe to:
Posts (Atom)
