Wednesday, September 10, 2008

my essay and poems

Ketakutanku

Malam itu aku merasa gelisah. Ketakutan ku akan kesepian dan keseorangan pun datang tak henti-hentinya. Ku coba pejamkan mata ini, namun…. Ya aku tak bisa. Ke kiri aku, ke kanan… namun tetap ketakutan itu ada.

Kudengar lentingan jarum jam yang menemaniku disetiap malam. Jarum jam menunjukkan pukul 03.12 pagi tepatnya. Hhuh..sudah hal yang biasa bagi ku untuk tetap terbangun di malam hari yang selalu ditemani dengan lantunan musik-musik melo dari radio kecil ku.

Ku bangun dan ku buka catatan kecil ku yang ku tulis dikala aku merasakan sesuatu telah terjadi pada kehidupan ku. Ya…sudah menjadi kebiasaan ku sejak masih duduk di bangku sekolah untuk menulis dan mencurahkan perasaan dan hati kepada buku “Cilik ku” ini. Hahaha….. meskipun aku tahu “dia” takkan bisa memberi jawaban dan solusi terbaik untukku.
Tapi aku bangga atas kesetiaannya dalam menemani ku disetiap detik ku.

Malam itu entah kenapa ketakutan ku akan kesepian dan keseorangan begitu ingin menghampiri ku.
Bayangan-bayangan “hitam” itu seolah-olah membawa ku kepada sebuah kehidupan baru untuk ku, tapi tetap ku tak mengerti!!

“Pergiii….!!!” …….“Pergiii….!!!” teriakku.

Ya Tuhan….aku mendengar seolah-olah buku “Cilik ku” ini sedang menertawai ku. Seolah-olah dia berkata kepada ku…

”Apa lagi yang akan kau tulis di kertas ini?? Kertas putih yang bersih,
dengan tulisan berwarna hitam, dan kemudian akan luntur!”
Yaa… luntur karena air mata ku. Seperti hujan yang turun setetes dua tetes,… Lalu….

Hhhaa… apa yang telah terjadi pada ku!!!!
Ternyata “dia” benar, aku menangis seperti anak bayi yang pucat dan membiru karena kedinginan dan mengharapkan pelukan kehangatan seorang Ibu.

Tapi aku……..??........Tanpa sebab!!!

Seolah-olah “dia” berkata……”hapuslah air matamu! Lihatlah ke depan, sesungguhnya ketakutan mu itu hanyalah Ketakutan Tanpa sebab!!”

By: Manusia setengah sadar
Tuesday, March 27, 2007, 4:50:51 AM


Yang tak termiliki

Berkali-kali aku meneriaki hanya sekedar untuk berkata ‘tidak’. Ucapan yang aku sendiri pun terlalu bosan. Aku bosan dengan kata itu. Malah lebih! Tidak sekedar bosan, tapi benci!

Bosan! Muak!
Aku terlalu muak dengan kehidupan ini.

Biarkan saja ia pergi meskipun sangat susah untuk melangkah. Biarkan saja ia membenci meskipun ia mencintainya. Biarkan saja ia bersuara meskipun ia bisu. Biarkan saja ia menatapnya meskipun ia buta. Biarkan saja ia tersenyum meskipun ia terluka.

Kenyataan memang selalu menyakitkan.
Biarkan ia terbang bebas hingga ke ujung kehidupan agar ia tahu dan mengerti arti kehidupan itu.

Bahwa ia memang tak akan memiliki.

By : Manusia setengah sadar
[Tuesday, March 27, 2007, 4:50:57 AM]


Surat untuknya
(for him … )

Kau tak akan pernah tahu rasanya malam ini. Menikmati dinginnya angin malam dan redupnya cahaya lampu. Malam ini benar-benar terasa dingin. Andai saja kau ada disampingku, untuk sekedar menemaniku berbincang-bincang, mungkin saja dingin tak akan menusuk tulang rapuhku ini.

Kita pernah berjanji untuk selalu bernafas bersama, menghirup udara dan menikmati lantunan musik setiap melodinya. Kita juga pernah berjanji untuk saling menyayangi tanpa ada batas dan tembok pemisah. Kita juga pernah berjanji untuk selalu mengenang masa-masa indah dan manis bersama. Dulu kita juga pernah mengikat janji bersama sambil menguraikan air mata, untuk tetap menyatukan detak jantung dan jemari tangan bersama. Tapi itu mungkin dulu. Dulu sekali.

Kata demi kata, dan ucapan demi ucapan begitu lantang dari mulut itu. Mulut yang terlalu berani untuk mengucap sepenggal kalimat. Kalimat cinta yang terlalu tawar dan hambar tanpa rasa.

Surat ini kupersembahkan untuk dirinya. Meskipun hanya sebuah kata-kata yang tak diucapkan.

Surat ini … surat yang tak pernah sampai.
Surat untuknya.

By : Manusia setengah sadar
[ Tuesday, March 27, 2007, 4:50:57 AM ]

No comments: