Hujan di Bandung. Malam itu ternyata malam terakhir ku untuk bertemu Utha. Aku mengambil napas dalam-dalam untuk meredakan emosiku. Dan aku mulai tersadarkan. Ternyata sudah 288 jam tak ada kabar darinya. Jangankan lewat SMS, batang hidungnya pun tak tampak di depan mataku. Semoga duniamu masih baik-baik saja. Aku bingung. Selalu mempertanyakan keberadaanmu dan hubungan ini. Ini bukan yang pertama kalinya. Sempat aku berpikir mungkin aku tak lebih dari tempat persinggahan lelahmu saat dunia tak mau lagi bersahabat denganmu. Utha... Utha. Bagiku mungkin saat itu kau adalah sang dewa penyelamat bagi kaum hawa yang lemah sepertiku. Namun, ternyata semua bohong. Kau tak jauh berbeda dengan para kaum adam yang pernah kukenal. Hanya saja kau sedikit beruntung pada saat itu karena kau pernah memiliki aku. Dari awal hendaknya aku sadar bahwa aku tak boleh berharap banyak darimu. Hanya saja mata dan telinga ini selalu membisu dan hatipun selalu tertutup untuk menyadarkan itu semua. Utha. Orang yang akan selalu membekas dihati ini. Selamanya.
Tak sadar aku tersenyum sendiri memikirkan Utha. Mengingat-ingat kejadian aneh yang pernah aku lalui bersamanya. Sedih. Senang. Lucu. Bahagia. Suka. Duka. Hampir rata. Isi otak pun terpaksa flash back kebelakang hanya untuk mengingat hal-hal detail tentang kejadian lalu. Sakit. Sakit sekali. Otak ini rasanya mau pecah ketika aku harus memaksakan diri untuk memejamkan mata dan mengkerutkan kening untuk sejenak terdiam lalu berpikir. Huh! Tidak. Tidak akan bisa terus-terusan seperti ini. Ayolah. Sudah. Cukup untuk cerita tentang Utha.
“U r free now. Jangan sedih mulu. Everything gonna be alright. Ga penting buat lo. Lo lahir nangis! Masa hidup mesti nangis.“
“TEORI itu masuk akal kok. Kita emang butuh waktu untuk bisa melupakan hal terburuk dalam hidup kita. Meskipun itu sangat terhina dan menjijikkan!“
“Yakin deh. Lo bakal ketemu orang yang jauh... jauh lebih baik dari dia.“
“Dunia belum berakhir sayaaaang...“
“Emang sakit. Tapi, itu cuma perasaan lo mengenai “keistimewaan”, yaitu “istimewa” sebagai seorang penderita. Jangan mau jadi penderita teruuuusss…”
“Mau sampe kapaaaaannn siiihh?”
-----------------------------------not the end-------------------------------------
COMING SOON...at GRAMEDIA
COMING SOON...at GRAMEDIA

No comments:
Post a Comment